Minggu, 11 September 2016

Ribuan Anak dan Wanita Masuk Bisnis Perbudakan Seks ISIS



Seorang gadis dijual melalui sebuah iklan di dunia maya. Dalam iklan tertulis, gadis cantik masih berusia 12 tahun dan belum ‘tersentuh’ lelaki. Harganya di bandrol sekitar 12.500 dolar AS. Iklan yang diunggah dalam bahasa Arab itu beredar di telepon pintar bersama informasi penjualan lainnya, termasuk senjata.  Seorang aktivis dari minoritas Yazidi kemudian menginformasikan iklan itu ke Associated Press.

Warga Yazidi selama ini dianggap telah menjadi korban perbudakan seks gerakan ekstremis. Seperti diketahui, ajaran Yazidi mengkombinasikan elemen Islam, Kristen, Zoroaster serta agama kuno Persia. Sebelum perang jumlah mereka diperkirakan mencapai 500 ribu jiwa. Namun saat ini angkanya tak diketahui pasti.

Ketika kelompok ISIS perlahan mulai kehilangan wilayahnya, mereka mulai menguatkan cengkraman terhadap 3.000 perempuan dan gadis yang ditahan.  Pemberontak menjual gadis-gadis itu melalui aplikasi telepon pintar dan membagikan data korban, termasuk foto serta nama pemilik mereka. Para militan akan membunuh penyelundup yang mencoba menyelematkan korban.

ISIS menahan ribuan anak dan wanita Yazidi ketika menguasai desa di utara Irak pada Agustus 2014. Sejak saat itu, penyelundup Arab dan Kurdi telah membebaskan 134 orang per bulan. Namun, menurut pemerintahan regional Kurdi sejak Mei jumlahnya berkurang menjadi hanya 39 orang.

MENCOBA KABUR, WAJAH BUDAK SEKS ISIS RUSAK TERKENA RANJAU

topikindo.com – Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kelompok militan ISIS diketahui tengah marak menjual perempuan lewat aplikasi perpesanan di ponsel pintar. Mereka bahkan menerapkan sistem pendataan yang ketat untuk mencegah para budaknya kabur.

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari seorang budak seks yang berhasil kabur. Ia bernama Lamiya Aji Bashar, perempuan warga Yazidi berusia 18 tahun. Ia sudah mencoba kabur sebanyak empat kali. Sebelum akhirnya pada percobaan kelima, Maret 2016, Lamiya berhasil diselundupkan keluar oleh orang suruhan pamannya. Meski begitu, perjuangannya untuk kabur terbilang dramatis dan penuh derai air mata. Banyak hal ia korbankan untuk bisa sampai ke titik kebebasan.

Kala itu Lamiya kabur bersama kedua rekannya. Nahas, mereka melewati ladang ranjau. Almas (8) dan Katherine (20) meninggal dunia terkena ledakan. Sementara nyawa Lamiya tertolong, meski harus kehilangan wajah cantik dan mata kanannya akibat ledakan.

Selama dalam jeratan ISIS, Lamiya sudah lebih dari dua kali menjadi piala bergilir. Pemilik pertamanya adalah seorang komandan ISIS bernama Abu Mansour yang bertugas di Raqqa, Suriah. Bersama Mansour, Lamiya hidup seperti di neraka. Dia diperlakukan secara brutal, dan sering kali tangannya diborgol.

Dari komandan itu, dua kali Lamiya berusaha lari. Akan tetapi, sebanyak itu juga dia tertangkap dan dipukuli serta diperkosa berkali-kali saat ketahuan. Sebulan kemudian, komandan tersebut bosan kepadanya dan menjual dia ke ekstremis lain di Mosul. Setelah menghabiskan waktu dua bulan menjadi pemuas nafsunya, Lamiya ditawarkan lagi ke seorang pembuat bom.

Terakhir, si penjual bom menyerahkannya kepada seorang dokter khusus militan ISIS di Hawija, kota kecil di Irak yang sudah dikuasai ISIS. Dokter yang juga menjabat kepala rumah sakit di kota itu juga melecehkannya.

Setahun bersama si dokter, Lamiya akhirnya mendapat kesempatan. Diam-diam, dia menghubungi kerabatnya minta dibawa keluar. Alhasil, pamannya segera membayar seorang pria yang biasa menyelundupkan orang seharga USD800 atau Rp10,5 juta dan mengatur pelariannya.


Bagai mimpi, Lamiya benar-benar bebas dan dijanjikan akan berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya di Jerman. Meski begitu, Lamiya mengungkapkan hatinya masih akan terus menetap di Irak.

0 komentar:

Posting Komentar