![]() |
| Kota Besar di Indonesia Berpotensi Terendam Banjir seperti Bandung |
Bencana banjir yang terjadi di Kota Bandung hari ini merupakan banjir yang paling parah sejak 10 hingga 20 tahun terakhir.
Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Prof. Sudibyakto menyatakan banjir semacam ini hampir selalu mengancam kota‐kota besar di Indonesia. Terlebih secara geomorfologi, Kota Bandung berupa cekungan yang dikelilingi oleh banyak pegunungan di sekitarnya.
Sebagai satu kesatuan sistem hidrologis di mana semua air hujan yang jatuh di atasnya akan mengalir melalui sistem sungai dan sistem drainase kota menuju ke “single outlet” dan akhirnya sebagian besar limpasan permukaan (surface runoff) tersebut menuju ke sungai dan waduk Saguling, waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur.
"Adanya tiga waduk besar dalam satu sistem DAS tersebut dapat mengurangi risiko banjir di bagian hilir DAS Citarum seperi Purwakarta dan sekitarnya," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (24/10/2016).
Dijelaskannya, faktor‐faktor penyebab banjir antara lain faktor hidrometeorologi (cuaca), faktor kondisi biogeofisik permukaan lahan, dan faktor manusia.
Hujan dengan intensitas sangat tinggi (>60 mm/jam) berlangsung singkat, akan menyebabkan kemampuan lahan tidak mampu menyerap lebihan air hujan, sehingga kapasitas infiltrasi tanah lebih kecil daripada intensitas hujan.
Karena curah hujan berlangsung sangat singkat, intensitas sangat tinggi dan merata kejadiannya, akan menyebabkan debit sungai dan saluran drainase kota terlampaui, sehingga terjadi banjir besar yang mampu menerjang apa saja yang dilewatinya.
"Kota Bandung yang bertopografi miring mendukung sistem pengatusan banjir, sehingga banjir berlangsung cepat. Perubahan tataguna lahan dan tata ruang wilayah hulu DAS Citarum berpengaruh besar terhadap banjir Kota Bandung," terangnya.
Urbanisasi dan munculnya kompleks perumahan kumuh di sepanjang sungai, lanjutnya, juga menyumbang debit banjir. "Ada korelasi positif antara pertambahan jumlah penduduk kota dan frekuensi banjir," imbuhnya.
Dalam konteks banjir kota, ada kecenderungan terjadi dengan periode ulang yang semakin memendek atau semakin sering terjadi, lebih‐lebih ada kemungkinan faktor pengaruh kejadian hujan ekstrem sebagai isu perubahan iklim.
"Pentingnya Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota, di mana sejauh ini Pemkot Bandung belum membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instrumen kelembagaan lainnya yang terkait dengan kebencanaan. Meskipun sudah sering dilakukan pelatihan kebencanaan oleh banyak pihak, namun belum satu kesatuan terintegrasi dalam rencana kontijensi (Rekon) dan rencana operasi (Renop) serta Pengadaan yang efektif sistem peringatan dini cuaca ekstrem yang berbasis masyarakat," ujarnya.
Review dan evaluasi spasial terhadap Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) skala besar (1:5000 atau 1:10.000), menurutnya perlu dilakukan secara menyeluruh dan bertahap sesuai dengan visi kota Bandung.
Penegakan aturan peruntukan lahan menjadi suatu kebutuhan agar Bandung Bebas Banjir di kemudian hari. "Perilaku masyarakat kota termasuk para pimpinan wilayah harus berubah menjadi pelaku/aktor dalam mengurangi risiko banjir kota secara serentak dan berkesinambungan dengan fokus pada perbaikan ekosistem kota," tandasnya.











0 komentar:
Posting Komentar